Pada dasawarsa terakhir ini, musibah demi musibah terjadi di Indonesia. Bencana demi bencana memporak-porandakan bangsa ini. Sosial, Politik, Ekonomi yang tidak jelas ditambah Alam yang semakin tidak bersahabat. Kecelakaan transportasi baik darat, air dan udara terus mencekam. Tabrakan Kereta Api, Bus, Mobil dan Sepeda motor setiap hari kita baca di koran. Kapal terbakar atau tenggelam juga hampir sepanjang tahun terus terjadi. Pesawat jatuh, hilang, meledak dan lain sebagainya membuat kita semua bergidik ngeri. Belum lagi bencana alam, Tzunami, Gempa, Gunung Meletus, Banjir, Semburan Lumpur Panas, Kebakaran Hutan dan Perumahan Padat mencekam kita semua. Tidak salah jika banyak orang berlomba-lomba menulis dan membuat istilah "Indonesia Menangis", "Indonesia Bersedih", "Indonesia Butuh Bantuan" dan lain sebagainya yang sejenis. Indonesia pantas Menangis, Indonesia pantas bersedih, Indonesia pantas mendapat bantuan ........
Namun, marilah kita sebagai warga negara dari bangsa yang besar ini jangan hanya terus tenggelam dalam tangisan kesedihan. Jangan hanya terus mengharap bantuan. Marilah kita bertindak!!!!!!
Lakukan sesuatu demi bangsa, bertindaklah sesuai dengan karakter bangsa yang luhur......
Tangisan kesedihan tidak akan membuat bangsa ini terbebas dari bencana dan musibah. Bantuan tidak akan membuat bangsa ini menjadi kaya.......
BERTINDAKLAH !!!!! Jaga wibawa bangsa. Jaga Kesatuan bangsa. Jaga Martabat Bangsa........
Jumat, 05 September 2008
Rabu, 03 September 2008
Program Kementerian Pariwisata Kabinet Sanddy
Kalau saya jadi Menteri Pariwisata di kabinet Sanddy, berikut adalah tiga prioritas utama saya. Sengaja dibuat tiga saja, daripada janji-janji program macem-macem tapi akhirnya nggak ada yang tercapai (nggak seperti program pariwisata yang sekarang ... yang sebenernya nggak jelas juntrungannya itu apa ....):
1. Comprehensive Infrastructure Development. Daerah-daerah wisata yang menjanjikan harus punya infrastruktur yang lengkap dan berfungsi dengan baik supaya turis nggak terjijay-jijay.
Misalnya, harus ada jalan yang rata dan bebas pungli dari airport / stasiun kereta ke obyek-obyek wisata. Harus ada drainage dan waste management system yang baik supaya kota bebas dari bau sampah dan banjir. Papan penunjuk jalan harus jelas dan bentuknya seragam. Harus ada WC umum yang bersih di lokasi-lokasi strategis. Harus ada hotel yang bersih, car rental, restoran, taxi, travel agent, dan tour guide yang bersertifikat di tiap-tiap daerah wisata. Pasokan air bersih dan listrik ke daerah-daerah wisata harus dijamin. Investasi di sektor energi dan infrastruktur pariwisata harus mendapat perhatian khusus.
Pembangunan pariwisata harus komprehensif dan mengikuti master plan untuk daerah tersebut ... jangan cuma sekedar memberi permit untuk bangun 1 hotel, tapi jalannya kesana tidak ada, cari es batu saja susah, listriknya putus-sambung, dan orang-orang lokalnya nggak ada yang terlatih untuk bekerja di hotel tersebut.
2. Connectivity. Turis masuk ke Indonesia melalui "pintu-pintu masuk" tertentu, mayoritas dari Jakarta, Bali, Medan, Yogyakarta. Karena itu, pemerintah akan berupaya supaya perusahaan transportasi memberikan connecting flight atau direct services dari pintu-pintu masuk ini ke daerah wisata lainnya. Misalnya .. dari Bali harus ada direct flight ke Manado, Lombok, Pulau Komodo, Surabaya. Dari Bali, harus ada tour bus yang dari airport langsung berangkat ke Pulau Menjangan, Lovina, Karangasem, dsb. supaya yang populer bukan cuma kabupaten Badung doang.
Tiap airport dan stasiun kereta api yang besar harus punya "Visitor Information Service" supaya turis-turis bisa dapat informasi terpercaya tentang apa yang bisa mereka lakukan di daerah setempat.
3. People Education. Selain Bali, harus diakui bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya mengerti bagaimana membuat turis merasa welcome, ingin datang lagi, dan ingin membuang duitnya di Indonesia. Misalnya, di Borobudur saya masih merasakan dikejar-kejar penjual suvenir dari awal sampai akhir kunjungan, hanya untuk menjual buku yang pada awalnya harganya Rp200 ribu, dan akhirnya mau turun sampe Rp20 ribu karena melihat bahwa kita sudah deket pintu keluar. Pedagang-pedagang kaki lima harus diajarkan untuk tertib berjualan di tempat yang sudah disediakan, dan jangan lah itu turis dikejar-kejar sampe ketakutan dan nggak mau balik lagi.
Kurikulum sekolah harus menekankan pentingnya "menggunakan" bahasa inggris dalam percakapan, bukan sekedar belajar grammar dan vocab tapi nggak tau cara pakenya. Belajar bahasa asing lain selain bahasa inggris juga sebaiknya dijadikan mata pelajaran pilihan untuk siswa SMP dan SMA. Jangan seperti sekarang, yang menteri pariwisatanya aja inggris-nya amburadul tapi super pede dan jadinya malu-maluin (maaf ya Pak ..... :-p )
Masyarakat harus dibiasakan untuk bersih. Misalnya, supir delman harus diajari untuk menaruh semacam karung di belakang kudanya untuk menampung pup-nya, lalu pupnya bisa disetor di tempat penampungan khusus yang bisa merubah pup ini menjadi pupuk kompos. Di Lombok, misalnya, jalan-jalan di Mataram dan sekitarnya masih penuh dengan kotoran kuda.
Misalnya lagi, masyarakat harus dibiasakan untuk tidak buang sampah dan meludah sembarangan.
Kalau tiga hal ini berhasil dilaksanakan, target 6 juta wisatawan tiap tahun (target kementerian pariwisata tahun 2008) itu sebenarnya sangat mudah. Singapur yang cuma pulau kecil saja bisa menarik 13 juta wisatawan tiap tahun, hanya dengan berpegang pada comprehensive infrastructure development, connectivity dan people development. Masak Indonesia yang beribu-ribu kali lebih besar dan indah tidak bisa? :D
1. Comprehensive Infrastructure Development. Daerah-daerah wisata yang menjanjikan harus punya infrastruktur yang lengkap dan berfungsi dengan baik supaya turis nggak terjijay-jijay.
Misalnya, harus ada jalan yang rata dan bebas pungli dari airport / stasiun kereta ke obyek-obyek wisata. Harus ada drainage dan waste management system yang baik supaya kota bebas dari bau sampah dan banjir. Papan penunjuk jalan harus jelas dan bentuknya seragam. Harus ada WC umum yang bersih di lokasi-lokasi strategis. Harus ada hotel yang bersih, car rental, restoran, taxi, travel agent, dan tour guide yang bersertifikat di tiap-tiap daerah wisata. Pasokan air bersih dan listrik ke daerah-daerah wisata harus dijamin. Investasi di sektor energi dan infrastruktur pariwisata harus mendapat perhatian khusus.
Pembangunan pariwisata harus komprehensif dan mengikuti master plan untuk daerah tersebut ... jangan cuma sekedar memberi permit untuk bangun 1 hotel, tapi jalannya kesana tidak ada, cari es batu saja susah, listriknya putus-sambung, dan orang-orang lokalnya nggak ada yang terlatih untuk bekerja di hotel tersebut.
2. Connectivity. Turis masuk ke Indonesia melalui "pintu-pintu masuk" tertentu, mayoritas dari Jakarta, Bali, Medan, Yogyakarta. Karena itu, pemerintah akan berupaya supaya perusahaan transportasi memberikan connecting flight atau direct services dari pintu-pintu masuk ini ke daerah wisata lainnya. Misalnya .. dari Bali harus ada direct flight ke Manado, Lombok, Pulau Komodo, Surabaya. Dari Bali, harus ada tour bus yang dari airport langsung berangkat ke Pulau Menjangan, Lovina, Karangasem, dsb. supaya yang populer bukan cuma kabupaten Badung doang.
Tiap airport dan stasiun kereta api yang besar harus punya "Visitor Information Service" supaya turis-turis bisa dapat informasi terpercaya tentang apa yang bisa mereka lakukan di daerah setempat.
3. People Education. Selain Bali, harus diakui bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya mengerti bagaimana membuat turis merasa welcome, ingin datang lagi, dan ingin membuang duitnya di Indonesia. Misalnya, di Borobudur saya masih merasakan dikejar-kejar penjual suvenir dari awal sampai akhir kunjungan, hanya untuk menjual buku yang pada awalnya harganya Rp200 ribu, dan akhirnya mau turun sampe Rp20 ribu karena melihat bahwa kita sudah deket pintu keluar. Pedagang-pedagang kaki lima harus diajarkan untuk tertib berjualan di tempat yang sudah disediakan, dan jangan lah itu turis dikejar-kejar sampe ketakutan dan nggak mau balik lagi.
Kurikulum sekolah harus menekankan pentingnya "menggunakan" bahasa inggris dalam percakapan, bukan sekedar belajar grammar dan vocab tapi nggak tau cara pakenya. Belajar bahasa asing lain selain bahasa inggris juga sebaiknya dijadikan mata pelajaran pilihan untuk siswa SMP dan SMA. Jangan seperti sekarang, yang menteri pariwisatanya aja inggris-nya amburadul tapi super pede dan jadinya malu-maluin (maaf ya Pak ..... :-p )
Masyarakat harus dibiasakan untuk bersih. Misalnya, supir delman harus diajari untuk menaruh semacam karung di belakang kudanya untuk menampung pup-nya, lalu pupnya bisa disetor di tempat penampungan khusus yang bisa merubah pup ini menjadi pupuk kompos. Di Lombok, misalnya, jalan-jalan di Mataram dan sekitarnya masih penuh dengan kotoran kuda.
Misalnya lagi, masyarakat harus dibiasakan untuk tidak buang sampah dan meludah sembarangan.
Kalau tiga hal ini berhasil dilaksanakan, target 6 juta wisatawan tiap tahun (target kementerian pariwisata tahun 2008) itu sebenarnya sangat mudah. Singapur yang cuma pulau kecil saja bisa menarik 13 juta wisatawan tiap tahun, hanya dengan berpegang pada comprehensive infrastructure development, connectivity dan people development. Masak Indonesia yang beribu-ribu kali lebih besar dan indah tidak bisa? :D
Senin, 01 September 2008
Kabinet Sanddy'14
Presiden : Sanddy Bhudi Agung Nugroho
Wakil Presiden : Ki Joko Bodo ( biar tetep presidennya lebih pinter.... )
Menteri Koordinator
Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan : Ryan (pembunuh berantai..)
Supaya pada takut di mutilasi kalau
melanggar Hukum.
Menteri Koordinator Perekonomian : Agus Markenthuz ( Office Boy.. )
Supaya benar2 membuat kebijakan
yang pro Rakyat seperti yang
dirasakannya selama ini.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat : Emak ( mertua Bajuri....)
Sudah terbukti mampu menyimpan
dan menabung untuk
kesejahteraannya sendiri.
Menteri Sekretaris Negara : Dian Satro
Sekretariskan harus cantik.
Menteri Departemen
Menteri Dalam Negeri :
Menteri Luar Negeri :
Menteri Pertahanan :
Menteri Hukum dan HAM :
Menteri Perdagangan :
Menteri Perindustrian :
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral :
Menteri Keuangan :
Menteri Kehutanan :
Menteri Pertanian :
Menteri Kesehatan :
Menteri Pekerjaan Umum :
Menteri Sosial :
Menteri Pendidikan Nasional :
Menteri Agama :
Menteri Kelautan dan Perikanan :
Menteri Perhubungan :
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi :
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Elina Ciptadi
Menteri Komunikasi dan Informatika : Roy Suryo
Wakil Presiden : Ki Joko Bodo ( biar tetep presidennya lebih pinter.... )
Menteri Koordinator
Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan : Ryan (pembunuh berantai..)
Supaya pada takut di mutilasi kalau
melanggar Hukum.
Menteri Koordinator Perekonomian : Agus Markenthuz ( Office Boy.. )
Supaya benar2 membuat kebijakan
yang pro Rakyat seperti yang
dirasakannya selama ini.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat : Emak ( mertua Bajuri....)
Sudah terbukti mampu menyimpan
dan menabung untuk
kesejahteraannya sendiri.
Menteri Sekretaris Negara : Dian Satro
Sekretariskan harus cantik.
Menteri Departemen
Menteri Dalam Negeri :
Menteri Luar Negeri :
Menteri Pertahanan :
Menteri Hukum dan HAM :
Menteri Perdagangan :
Menteri Perindustrian :
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral :
Menteri Keuangan :
Menteri Kehutanan :
Menteri Pertanian :
Menteri Kesehatan :
Menteri Pekerjaan Umum :
Menteri Sosial :
Menteri Pendidikan Nasional :
Menteri Agama :
Menteri Kelautan dan Perikanan :
Menteri Perhubungan :
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi :
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Elina Ciptadi
Menteri Komunikasi dan Informatika : Roy Suryo
Jumat, 08 Agustus 2008
10 Tindakan Teknis demi Indonesia Jaya
Pertama: Mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas khususnya dibidang pertambangan dan perbankan dengan menarik semua ahli-ahli pertambangan dan perbankan warga negara Indonesia yang berkerja di luar negeri dengan memberikan gaji dan fasilitas serta jaminan keamanan dan kenyamanan sebagaimana yang diperoleh diluar negeri.
Kedua: Menasionalisasi semua perusahaan dibidang pertambangan, energi dan perbankan yang ada di Indonesia, dengan memperkerjakan langsung ahli-ahli yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Ketiga: Mulai memenuhi sendiri semua kebutuhan pertambangan dan energi tanpa bantuan dan ketergantungan pihak asing.
Keempat: Menghapuskan hutang luar negeri dan dalam negeri yang sebesar lebih dari 1300 Trilyun Rupiah yang sangat membebani APBN Indonesia serta memutus hubungan dengan IMF dan Bank Dunia.
Kelima: Mengembalikan supremasi Hukum.
Keenam: Memberikan kebebasan Rakyat Indonesia dengan melindungi Hak Asasi-nya sebagaimana yang dimanatkan UUD'45.
Ketujuh: Mengaudit pendapatan pajak secara langsung oleh lembaga Independen dan proaktif atas pembayaran pajak.
Kedelapan: Mengembalikan Indonesia sebagai negara Agraris dan Bahari sehingga bisa kembali Swasembada Pangan.
Kesembilan: Membekukan semua aset Koruptor dan juga membekukan sementara aset dugaan korupsi sampai keluarnya kekuatan hukum tetap.
Kesepuluh: Mengembalikan Indonesia kepada Demokrasi Pancasila yang hanya memiliki satu dasar negara yaitu PANCASILA.
Pertama: Mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas khususnya dibidang pertambangan dan perbankan dengan menarik semua ahli-ahli pertambangan dan perbankan warga negara Indonesia yang berkerja di luar negeri dengan memberikan gaji dan fasilitas serta jaminan keamanan dan kenyamanan sebagaimana yang diperoleh diluar negeri.
Kedua: Menasionalisasi semua perusahaan dibidang pertambangan, energi dan perbankan yang ada di Indonesia, dengan memperkerjakan langsung ahli-ahli yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Ketiga: Mulai memenuhi sendiri semua kebutuhan pertambangan dan energi tanpa bantuan dan ketergantungan pihak asing.
Keempat: Menghapuskan hutang luar negeri dan dalam negeri yang sebesar lebih dari 1300 Trilyun Rupiah yang sangat membebani APBN Indonesia serta memutus hubungan dengan IMF dan Bank Dunia.
Kelima: Mengembalikan supremasi Hukum.
Keenam: Memberikan kebebasan Rakyat Indonesia dengan melindungi Hak Asasi-nya sebagaimana yang dimanatkan UUD'45.
Ketujuh: Mengaudit pendapatan pajak secara langsung oleh lembaga Independen dan proaktif atas pembayaran pajak.
Kedelapan: Mengembalikan Indonesia sebagai negara Agraris dan Bahari sehingga bisa kembali Swasembada Pangan.
Kesembilan: Membekukan semua aset Koruptor dan juga membekukan sementara aset dugaan korupsi sampai keluarnya kekuatan hukum tetap.
Kesepuluh: Mengembalikan Indonesia kepada Demokrasi Pancasila yang hanya memiliki satu dasar negara yaitu PANCASILA.
Selasa, 22 Juli 2008
SBY Presiden RI ke-8
TERJADI kekeliruan sejarah pada tulisan yang disampaikan di berbagai media massa bahwa Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden ke-6 Republik Indonesia (RI). Anggapan umum bahwa tokoh yang pernah menjadi Presiden RI berturut-turut Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan kini SBY.
Padahal ada dua tokoh yang terlewat, yaitu Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Keduanya tidak disebut, bisa karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja. Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (1948) ketika Soekarno dan Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Assaat adalah Presiden RI saat republik menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).
(from: similikity)
Padahal ada dua tokoh yang terlewat, yaitu Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Keduanya tidak disebut, bisa karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja. Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (1948) ketika Soekarno dan Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Assaat adalah Presiden RI saat republik menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).
(from: similikity)
From Jogja To RI-1

Jangan cepat tertawa atau menggerutu melihat judul ini. Bukan bermaksud promosi namun hanya sebagai bagian dari democrazy. Menjadi RI-1???
Hanya judul tanpa makna.
Hanya parodi dipanggung dunia politik Indonesia yang penuh sensasi dan lawak tingkat tinggi.
Hanya olok-olok supaya dapat diperolok oleh orang-orang yang tak tau diri.
Hanya Jargon ditengah banyaknya jagoan-jagoan yang sok jagoan.
Nyandunya Alam Indonesia

Luar Negeri????? Orang-orang kelas menengah selalu menjadikan Luar Negeri sebagai tujuan liburan keluarga. Luar Negeri begitu terkesan sangat berkelas. Luar Negeri menjadi orang merasa punya harga diri.
Jujur, jujur dan jujur..............lah pada diri sendiri..
Indonesia dengan kakayaan alamnya yang luar biasa ini jauh lebih bagus ketimbang luar negeri. Ngarai Sihanuk lebih indah dibanding Grand Kenyon. Gunung Jayawijaya lebih menantang dibanding Gunung Mc. Kentley di Amerika. Danau Toba lebih eksotis dibanding danau Titicaca di Bolivia. Bali lebih mempesona dibanding Thailand ataupun Hawaii. Dan banyak lagi obyek wisata yang jauh lebih berkelas dibandingkan hanya jalan-jalan keluar negeri. Nikmati Alam Indonesia dijamin akan KETAGIHAN alias NYANDU berat............
Langganan:
Postingan (Atom)